Don't Miss
Home » article » Skripsi, Kelompok Riset dan Kesinambungan Riset Perguruan Tinggi

Skripsi, Kelompok Riset dan Kesinambungan Riset Perguruan Tinggi

Mahasiswa dan dosen merupakan dua komponen sentral untuk suatu perguruan tinggi. Keduanya berproses di bidang masing-masing, melalui perkuliahan, pengajaran, penelitian, dan tugas akhir (skripsi). Biasanya, proses yang baik akan menghasilkan luaran yang baik pula, meskipun tak selalu demikian. Riset mahasiswa, dalam hal ini skripsi, yang terkoneksi baik dengan riset dosen pada akhirnya akan menghidupkan iklim akademik, menjaga fokus dan kesinambungan kegiatan riset perguruan tinggi. Hal tersebut tentu akan berdampak pada produktivitas perguruan tinggi dalam menghasilkan luaran riset yang tepat guna, progresif, kekinian, dan kompetitif.

biosocial-methods-image

Sumber : www.birmingham.ac.uk

Pada berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, interaksi antara dosen dan mahasiswa umumnya telah terpola, berdasarkan kesesuaian bidang minat, intensitas mahasiswa di kegiatan laboratorium, dan intensitas interaksi ilmiah antara kedua pihak. Skripsi, sebagai kegiatan ilmiah terakhir mahasiswa pada jenjang sarjana tentu memerlukan asuhan dari dosen yang menurut mereka sedang berada di ‘rel ilmiah’ yang sama. Sedangkan, dosen sebagai think tank suatu riset, tentu juga memerlukan sekelompok mahasiswa yang memiliki ‘ghirah’ sewarna, sebagai asisten, implementator lapangan, surveyor, observer, atau bahkan sebagai generator riset mereka. Kemampuan spesifik mahasiswa yang terdeteksi selama perkuliahan berlangsung dan kreatifitas dosen dalam menawarkan topik yang feasible menjadi dua kutub yang saling tarik dan memainkan peran utama dalam dinamika ilmiah dan katalisator kemajuan suatu perguruan tinggi.

Bagaimana dengan perguruan tinggi lain, yang relatif masih belajar tumbuh? Rasanya, kondisi itu tidak seharusnya menjadi pengecualian. Bukankah daya tumbuh suatu perguruan tinggi juga ditentukan oleh seberapa tinggi intensitas riset dosen dan seberapa jauh mereka terkoneksi dengan riset mahasiswanya? Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta yang masih belajar tumbuh? Tampaknya, logika yang digunakan tak akan jauh berbeda.

Namun yang perlu diingat, ada syarat awal yang dibutuhkan untuk belajar memulai pola seperti ini: Independensi, Regulasi, dan Kedewasaan.

Independensi mahasiswa dalam memilih nakhoda dan pelabuhan riset, independensi dosen dalam menumbuhkembangkan area riset perlu dijamin dan dijaga kenyamanannya. Regulasi yang lugas dan sederhana perlu dikonstruksi tanpa melakukan intervensi berlebihan pada kreativitas pelaku riset. Kedewasaan dan sportifitas seluruh pihak perlu ditumbuhkan dalam rangka menjaga kultur keilmiahan tetap berada ditempatnya.

Bahkan, secara lebih masiv, jika tiga syarat itu telah disanggupi, sebenarnya kita dapat membangun suatu kelompok riset kecil yang berfokus pada bidang minat tertentu dan beranggotakan dosen-dosen dengan arah penelitian yang sama. Dengan begitu, secara tidak langsung, setiap program studi akan memiliki karakter ilmiah masing-masing, bersinergi bersama mahasiswa dan berkontribusi nyata pada perguruan tinggi yang menaunginya.

Kita tahu, tidak ada yang tidak mungkin. Kita hanya perlu bertanya, adakah yang cukup bernyali mengawali?

Selamat sore Kisanak. Sudahkah anda tumbuh dan bernyali?

-IPK-