Don't Miss
Home » article » STEM, K-13 dan Cita-Cita Menjadi Bangsa Produktif

STEM, K-13 dan Cita-Cita Menjadi Bangsa Produktif

STEM merupakan akronim untuk disiplin ilmu Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Terminologi ini biasa digunakan oleh negara-negara maju (US, UK, Australia) ketika membicarakan kebijakan pendidikan dan pemilihan kurikulum sekolah untuk meningkatkan daya saing dalam pengembangan teknologi (http://en.wikipedia.org/wiki/STEM_fields).

STEM

Source : http://secc.sedl.org/resources/

Pemerintah United Kingdom juga telah cukup lama menyadari dan mengidentifikasi bahwa pendidikan di bidang  STEM sudah semestinya menjadi prioritas utama di level sekolah maupun pendidikan tinggi. Hal ini tidak hanya disebabkan karena keterampilan dan pengetahuan di 4 area disiplin ilmu tersebut sangatlah esensial bagi kesuksesan siswa, namun juga karena bidang ini terlibat secara signifikan dalam kehidupan nyata. STEM merupakan suatu pendekatan interdisipliner dan aplikatif yang disandingkan dengan pola pembelajaran berbasis masalah (http://www.nationalstemcentre.org.uk/stem-in-context/what-is-stem).

Di Indonesia, jargon STEM mungkin dapat disetarakan dengan pembelajaran berbasis saintifik yang dijadikan model pembelajaran pada Kurikulum 2013 (K-13). Model ini memiliki ciri khas pada 5 tahap/proses yang harus dilalui siswa yaitu : mengamati, bertanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan. Pada beberapa sumber pembelajaran K-13 yang dapat diakses secara online, kita dapat melihat skenario pembelajaran yang mengajak siswa untuk berproses dan terlibat secara aktif dalam satu rangkaian pembelajaran. Siswa diajak menemukan ide pokok, menyampaikan pendapat, dan memberikan contoh nyata atas suatu konsep yang sedang dipelajari.  Pemerintah juga telah mengadakan sejumlah sosialisasi mengenai konsep dan teknis pelaksanaan K-13. Meskipun beberapa kalangan berpendapat bahwa sumber daya yang kita miliki belum siap untuk menunaikan kurikulum ini, banyaknya bias dan kebingungan baik pada sisi pengajar, sekolah, maupun peserta didik, serta beberapa kekeliruan redaksional dan konten pada buku paket, namun secara umum, tampaknya, K-13 dimaksudkan untuk menjadikan generasi mendatang dapat lebih kreatif, adaptif, aplikatif dan produktif.

Pada tahun 2007, McKinsey membandingkan beberapa sistem pendidikan dari seluruh dunia untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap dapat membangun model pendidikan terbaik. Kesimpulan penting yang diperoleh pada penelitiannya adalah : ‘kualitas dari suatu sistem pendidikan sangat bergantung pada kualitas para gurunya‘   (http://www.nationalstemcentre.org.uk/stem-in-context/what-is-stem).

Bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan NTB? Pada titik ini, semestinya kita mulai bertanya : Sudahkah kita membangun konstruksi pendidikan guru yang mengedepankan kualitas, kreatifitas, integritas, dan inovasi? Sudahkah kita bersungguh memandang pendidikan guru sebagai suatu investasi emas yang akan menentukan sejauh apa loncatan kemajuan bangsa kita sekian tahun mendatang?

Mereka, di luar sana, sudah sibuk dengan konstruksi STEM, aplikasinya, integrasinya dan sederet rancangan lain. Kita, masih sibuk beretorika dan mendebat bahwa kurikulum A lebih baik dari kurikulum B, sampai kemudian ide-ide kreatif pupus di balik meja, meninggalkan generasi penerus bangsa  yang ‘go with the flow‘ dan semakin jauh dari kata cendekia.

Red. (IPK)